http://desperadroo.blogspot.com/feeds/posts/default
26 Mei 2009
The One With a Hair Cut and Gabe Bondoc

Maaf, lama banget gak ada kehidupan di blog ini. Lagi sibuk ini-itu, ujian, masalah depresi rutin, dll, dkk yang menyebabkan gak bisa sering-sering update blog (baca: mencari-cari alasan).

Anyway, masih ingat tentang tulisan "Andrew ganteng" di spanduk PSM kemarin? Ada update berita lagi tentang yang itu. Tapi itu disimpan saja dulu. 8) *dibunuh*

Untuk sekarang, feel free buat mampir dan nonton film pendek buatan aye dan temen-temen: Hari Ini Adam Potong Rambut!



Setelah melalui perjuangan begitu panjang, akhirnya berhasil juga meng-uploaad 10 chapter film itu secara lengkap di Youtube! Yeah! Here's the link to the first chapter of the movie. Untuk lihat lebih banyak, lihat aja di channel Youtube aye. :-)

Dan ngomong-ngomong tentang potong rambut, gue juga baru aja mengganti model rambut gue lhoooo. Dari shaggy-ponian-cupu-kayak-mau-mati, jadi sok-sok dibuat fauxhawk. Hahaha. Gak tau deh jadinya gimana, makin ganteng atau tetep ganteng aja. Hmph. *disambit*



Eh, apa?

Mirip Gabe Bondoc katamu?



Ah.

Iya, emang banyak yang bilang kok. 8) *self-proclaiming mode on* Beruntung sekali ya seorang Gabe bisa disama-samakan dengan saya.. *makin dibunuh*

Anyway, sampai sini dulu postingannya. See ya later, guys! ;-)
07 Mei 2009
The One With a Secret Admirer

PERHATIAN: CERITA YANG AKAN ANDA BACA INI ADALAH KEJADIAN NYATA. PENULIS TIDAK MEMANIPULASI SEDIKITPUN BAGIAN DARI KEJADIAN INI, DAN TIDAK TERLIBAT DALAM PROSESNYA.


Masih inget kan gue kemarin sempet nyinggung-nyinggung sedikit tentang mini konser PSM FK Unpad yang gue ikutin? Kalau ada yang kemarin gak sempet nonton dan penasaran, kayak apa sih acaranya, bisa mampir sebentar ke blog tetangga yang ngereview konsernya.

Tapi bukan itu yang mau gue bahas di sini sekarang. Melainkan, yang satu ini. Setelah konser selesai, panitia memasang sebuah spanduk apresiasi tempat penonton bisa menuliskan pendapat mereka.



Kalau kamu memperhatikan, ada yang menarik di spanduk aspirasi ini.

Apa?

Kamu tidak bisa melihatnya?

Mari kita perbesar lebih lanjut.



SEE?


Sebuah coretan agung yang menandakan adanya suatu semilir cinta rahasia kepada seorang pria tampan bernama: ANDREW.

Dan mengingat, HANYA ada satu ANDREW di barisan paduan suara itu, kita semua tentu bisa mengerti siapakah ANDREW yang dimaksud tersebut. Tentu saja merujuk pada satu pria tampan di barisan tenor itu.

Yeah, I know.

Biasa banget ya, kejadian kayak gini berlangsung padanya. Udah bukan surprise lagi. *dibunuh*

Anyway, siapakah kiranya yang menulis ini di spanduk apresiasi, tunjukkanlah dirimu padaku wahai pemuja rahasia. Wekekek..

Sebagai, tambahan.. Silahkan nikmati pula foto Rafshan yang dengan penuh kasih sedang menyetrikakan baju kami, para anak-anak Tenor.. Sungguh penuh rasa keibuan sekali beliau ya. Benar-benar the MOTHER OF THE BASSES.. *terharu*



Epilog:

Setelah draft kasar postingan ini dipasang di Facebook, beberapa teori konspirasi tentang siapa sebenarnya pelaku vandalisme ini beredar luas di masyarakat. Saya pribadi tidak menyarankan anda untuk mempercayai teori-teori yang beredar tersebut dan tetap berpegang pada akal sehat anda.

Ada pertanyaan dari wartawan sekalian?

Apa? Apa hubungan saya dengan Rhani Juliani? Dia hanya caddy saya, itu saja kok.. Oke, oke? Terima kasih banyak rekan-rekan semua.. Sekian konferensi pers hari ini~ *dibunuh*
03 Mei 2009
The One With the Pathophysiology

Sebenarnya gue gak mau nulis postingan ini, in fact, gue malah udah punya draft kasar di kepala gue tentang apa yang rencananya akan gue tulis: pengalaman gue ikutan mini konser PSM FK Unpad hari Sabtu kemarin. (Iya, gue! Gue lho yang nyanyi!).

Tapi, kayaknya gue terlalu mellow males untuk nulis tentang itu. Rencana gue nulis tentang cast/crew film pendek gue aja gak jadi-jadi. So, yawdalah. Terima nasib aja dulu.

Jadi, apa kabar? What news, kalo terjemahan bebasnya.

...

Oh, shit. Laptop goblok gue baru saja membuat gue tidak sengaja menghapus satu alinea penuh postingan gue. Jadi, gue harus mulai lagi menulisnya. *keluh*

So, *rewrite* apa yang hangat? Hari ini gue bolos kuliah dan dengan semena-menanya menggunakan surat ijin sakit yang gue punya untuk itu. Hm, gak sebegitu semena-mena juga sih. Surat sakit itu digunakan sesuai kebutuhannya. Hari ini gue kebangun dan mendadak diare parah. Itu sakit kan? Selain itu, gue juga cukup yakin kalau Asosiasi Psikiatri Amerika mengklasifikasikan kondisi gue saat ini sebagai sebuah penyakit serius: mood disorder.

Itu sakit juga. One real disease, kalau gue mau berargumentasi. (Tapi, tentu gue tidak akan menggunakan alasan penyakit #2 gue ini saat nanti melapor ke tutor gue).

Dan, sekarang, gue sedang berada di food court Jatos, di mana, di kejauhan yang sebenarnya-gak-jauh-jauh-juga sih, kang Harry Mahathir dan sang kekasih, Putri sedang asyik lunch date.

Dan dua pertanyaan langsung muncul di kepala gue saat ini:

1. Lho, baru jam segini, angkatan 2005 dan 2008 udah gak ada kuliah ya? Kok bisa santai banget makan di sini? :O Wah, serunya. Baru satu hari gue gak kuliah dan ternyata gue udah kehilangan kabar tentang kalender akademis kampus.

2. Kok kayaknya kemejanya kang Harry sama dengan yang dia pakai hari Sabtu kemarin ya? Garis-garis vertikal hitam putih yang kontras. Ah, ya sudahlah. Bukankah penghematan sabun cuci akan membantu kita menyelamatkan bumi ini. ;-)

Uh, oh. There they go. Dan selagi gue mengalihkan pandangan gue untuk menulis tentang ini, mejanya sudah langsung bersih dari sisa-sisa piring mereka. GILEEE. Janitor di sini oke juga.

Oke, kembali ke topik.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Kalau kamu kenal gue cukup dekat, kamu pasti tau (wait, gue lupa--gak ada orang yang mengenal gue sedekat itu. Bahkan gue sendiri kadang bingung dengan diri gue) kalo gue gak akan berani melakukan hal senekat ini. Yeah, bolos menurut gue adalah salah satu hal nekat. Poor me.

Tunggu. Gue gak bolos. Gue lagi sakit. Ini pembelaan dari gue untuk satu orang yang pasti akan nyap-nyap begitu tahu gue dengan gampangnya gak masuk kuliah hari ini. Thanks, Prys. (Geer amat ya gue, padahal dia juga belum tentu baca blog ini, ATAU, akan sebegitu pedulinya.. Ahahaha).

...

Baru membaca ulang tulisan di atas. See?

All those second thoughts I'm adding to my sentences. Ditambah dengan fakta gue mendadak mupeng banget dengerin lirik lagu dari headphone gue sekarang dan meresapi maknanya, SANGAT menunjukkan ada yang salah dengan kondisi mood gue sekarang (!).

(BTW, it's Adhitya Sofyan's Adelaide Sky that I'm listening to now, if you're wondering).

Mungkin hanya krisis identitas singkat atau semacam shock singkat akibat perubahan drastis. Teori pertama basi banget. Teori kedua lebih gue percaya. Gue yang beberapa hari ini sudah terbiasa banget latihan PSM sampai malam, ngobrol-ngobrol, bercanda dengan temen-temen choir gue, dan sampai akhirnya kemarin Sabtu kita berhasil juga menyelesaikan konser itu dengan (cukup) sukses, sekarang gue udah harus kembali ke realita.

Realita yang berarti: bangun pagi secara rutin jam delapan, mengerjakan pe-er dalam kecepatan super, memfotokopi, mandi, ngebut ke kampus, sampai dengan terlambat, tutorial, makan siang, lab activity dan kembali ke kamar untuk menonton tivi dan sinetron. Hoeks.

Hahaha, gue rasa psikis gue kurang cukup siap melewati perubahan sedrastis itu hanya dalam 24 jem kurang. Buktinya, hanya 17 jam setelah hari Sabtu, gejala-gejala psikosomatis itu sudah semakin nyata: tekanan darah gue mendadak turun, keringet dingin, mual-mual, lightheaded.

19 jam setelah hari hari Sabtu: gangguan mood itu mulai muncul. Dan, karena gue adalah orang yang sangat psikosomatis (dari psikis berpengaruh ke tubuh), sepanjang malam itu dada gue kerasa ngilu banget dan gue mulai sesak napas. Ahahaha. Dan tentu saja, apalah definisi depresi, tanpa adanya kehilangan semangat hidup? Sepanjang malam itu gue hanya mau tergeletak di kasur gue, despite kebelet/laper/mual/dkk.

Aneh. Gue selalu beranggapan, tahapan pertama menyembuhkan diri, adalah menyadari bahwa diri lo sedang mengalami sakit itu. Tapi itu tidak berfungsi buat gue kemarin malam.

Gue mengerti sakit di dada gue ini diakibatkan sistem saraf simpatetik gue teraktifasi, mengkonstriksikan pembuluh darah di sekitar dada, menyebabkan jaringan di sekitarnya kekurangan nutrisi, mengeluarkan mediator untuk rasa sakit yang kemudian ditangkap receptor di sekitarnya, untuk kemudian dibawa dan diterjemahkan di otak gue sebagai: "Heh, dada lo sakit tuh!".

Gue mengerti kalau penyebab itu semua, those whole mood disturbances, juga berasal dari dalam kepala gue aja. Dopamine gue, entah kenapa, mungkin mendadak hilang dari peredaran dan ditangkap oleh kepala gue sebagai: "HEI, AYO KITA BUAT BOCAH TOLOL INI DEPRESI DAN KEBELET PIPIS DI WAKTU YANG SAMA!".

Hooray.

Untung gue gak ngompol semalem dan memaksakan diri ke toilet. Wekeke.

DAN, sekarang, semuanya masih berdampak ke hari ini. Untuk mereview singkat, kalau lo ke foodcourt Jatos sekarang, lo akan menemukan satu bocah nerdie di pojokan sedang sibuk ngetik sesuatu di laptopnya dengan muka pervert-masang-tampang-polos.

Saat kayak gini, punya pacar kayak kang Harry tadi seru juga ya. (Ah, isn't this one nice blog post? Apa yang gue tulis di awal, terangkum lagi di akhirnya! Hahaha).

Tapi, apa benar punya pacar akan membantu? Setelah gue pikir-pikir lagi, rasanya gak juga. Maybe I just need a friend. One friend that could help me getting away from this.

Hahahaha. Yeah, I know.

Kayak kurang aja, kan? Orang-orang (dan mungkin kamu) biasanya melihat gue sebagai seseorang yang selalu heboh berada di tengah keramaian. Masa sih orang seperti ini bisa merasa seperti itu?

Yeah. Gue harus keluar dari dinding kaca yang gue bangun sendiri. So, remind me guys the next time you'll see me, have I stepped out? Atau jangan-jangan sebenarnya gue sedang membangun dinding kaca yang lebih tebal lagi sekarang dengan menulis ini?

Whew. Itulah ironi kehidupan! ;-) Apa ada juga yang suka merasa seperti ini sekali waktu? Hm. I wonder.

Anyway, sampai sini dulu sesi curcolnya. Paling juga besok pagi gue udah biasa lagi dan menyesali, KENAPA, oh, KENAPA, gue menghabiskan dua jam dalam hidup gue untuk ngetik postingan ini dan BUKANNYA NGERJAIN TUGAS-TUGAS YANG UDAH NUMPUK?

Ahahaha.

Udah ah, chao. Waktunya kembali ke realita. :p

des·per·ate // adj. // Having lost all hope; Nearly hopeless. des·per·a·droo // n. // A hopeless boy; A desperate houseboy; A blog full of desperation.

..desperate for droo?

droo!
- blogger -
- twitter -



"Breathtaaaking!" - Time.

"..one of the most desperate people in this century," - People.

"Empat jempol terangkat!" - Kompas.

"Ya ampuuuun! Dirly aja kalah imut!" - Kawanku.

"Saya pernah melihat yang lebih buruk," - Rita Skeeter, Daily Prophet.


The One With the Wish List
The One With the Naked Truth
The One Where We Should Love Ourselves More
The One Where Mbah Surip Has Gone
The One With a Facebook Stalker
The One With Before and After Pictures
The One With Beer and Cigarrete
The One With the Dragging to Papaya Hell
The One With the Self-Titled Local Food Critic of ...
The One With a Virgin



Agustus 2008
Oktober 2008
November 2008
Desember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
April 2009
Mei 2009
Juni 2009
Juli 2009
Agustus 2009
September 2009
November 2009



Azizah
Caca
Dani
Didi
Ditta
Ery
Kian
Nestri
Shakiena
Thareq

Almira
Ghea
Gina
Indra
Kautsar
Shasha
Zulmi

Audric
Dharma
Harris
Menur
Noni
Nunu
Tria

Alex
Ambudaff
Brian
Budiaman
Cornelia
Gaby
Harnadi
Jesse
Sandy
Shrivastava
Sylvia
Ucrit
Zion

Cinta Laura
Dewi Lestari
Dian Sastrowardoyo
Raditya Dika
Sherina Munaf

Jurnal Ksatria Kastil
Med-Info on the Net






Tata Rias oleh Tim Sari Ayu Ireth Halliwell
Header oleh Droo
Make Up dari GettyImages
Kotak Penggemar dari Shoutmix


Free Web Counter