24 Maret 2009
The One With Bitches
Menurut oom Wiki tercinta, ada beberapa acuan terhadap definisi "bitch".
1. a term for the female of a canine species in general. 2. a term for a malicious, spiteful, domineering, intrusive, or unpleasant person, especially a woman.
Untuk definisi pertama, nampaknya kejelasan sudah cukup tersedia. Oleh karena itu, marilah kita membahas secara lebih mendetail mengenai definisi nomor dua-nya.
Sebagai permulaan, ada dua tipe "bitch" macam ini yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tipe pertama, kita sebut saja Bitch A, adalah tipikal bitch yang sering terlihat di film-film remaja Amrik sana. The blondie, smiling-in-the-front-backstabber adalah penjelasan yang sangat klise mengenai tipikal Bitch A. Mereka tampil dengan pesona semanipulatif mungkin, mendominasi percakapan dan menghancurkan mereka yang lemah.
Yang menarik dari kategori ini adalah, Bitch A, secantik dan semanis apapun terlihat di depan, kita selalu tahu dan bisa mengucapkan: yeah, she's a bitch after all hanya dengan sekali melihat.
Kategori kedua, atau Bitch B, adalah jenis bitch yang lebih membahayakan. Ya, dia merupakan evolusi dari Bitch A dengan kemampuan manipulasi, dominasi dan destruksi yang lebih berkembang, HANYA SAJA, dia dilengkapi dengan outlook yang SANGAT menipu.
Tidak, dia tidak tampil dengan penampilan menggoda dan seksi layaknya Bitch A. Dia tampil dengan sosok yang sangat lembut, manis, penuh perhatian, nyaris angelic bahkan!
Ketika kita mengenalnya pertama kali, tentu saja, kita tidak akan melihat sama sekali sisi destruktif/dominasi-nya tersebut, karena itu kita akan menurunkan sedikit sistem pertahanan kita. Tetapi, justru itulah yang sebenarnya Bitch B tunggu-tunggu. Ketika kita sudah tidak waspada, dia menyerang kita dengan membabibuta! Tanpa kita sadari, ia telah memanipulasi kita JAUH lebih parah daripada yang bisa Bitch A lakukan.
Berhati-hatilah anda semua akan kedua tipe di atas. Apabila anda menemukannya di jalanan, segera beritahu petugas penangkaran terdekat. Keselamatan rekan-rekan kita tergantung kewaspadaan kita.
P.S. Yeah, tebakan lo bener. I just got myself into a Bitch B recently. Life's a bitch.
22 Maret 2009
The One Where Droo Goes Xpress!
Masih inget sama artikel kuliner yang ini? So, Ababil nampaknya cukup mempercayakan gue untuk menulis artikel lagi tentang wisata kuliner di kota seribu wisata (?), Jatinangor, ini buat majalah kampus, Medicinus. So, inilah dia, the un-edited, un-published, raw version of my article. Enjooy!
OHLALA XPRESS:
Jalan Tercepat Belajar Kesabaran dan Penghematan
Hi, back with me, Droo di rubrik kuliner kita! Jadi, tempat makan apa yang akan kita review (atau hancurkan) di edisi kali ini? Yap. Tidak lain dan tidak bukan, it’s the new, sizzling café and resto in town. It’s OHLALA XPRESS. Bertempat di used-to-be-toko-tanaman-hias-gak-laku-di-Jatos, sekarang berdirilah sebuah resto 24 jam yang menarik mata mereka yang melewatinya.
Dekorasinya yang didominasi warna alam seperti cokelat dan hijau berhasil membangun sebuah atmosfer yang cozy untuk hang out. Konsep back to nature ini juga diperkuat dengan desain bangunannya yang semi open-space sehingga kamu bisa tetap merasakan sepoi angin sore ketika nongkrong di sini. Saking open-spacenya, kalau hujan datang dan kamu duduk dekat jendela, kamu bisa juga menikmati tetes-tetes hujannya yang terbawa angin (!).
Bagaimana dengan view-nya? Konsep open-space ini juga menawarkan beberapa pemandangan yang cukup apik. Sambil menikmati hidangannya, kamu bisa melihat beberapa pesona alam seperti: tukang gorengan Jatos sedang menggoreng tempe, ataupun menara KFC yang kokoh di kejauhan. Sungguh view yang romantis sekali untuk dinikmati bersama si dia, bukan? Bukan.
Enough with the building. Sekarang mari kita beralih ke poin terpenting untuk anak kos: harga. Untuk kamu yang koceknya lebih terbiasa dengan warung Tegal Jaya, gue sangat tidak merekomendasikan tempat ini ke kamu. Main course-nya rata-rata berkisar dari Rp 13.000-15.000, belum termasuk pajak 15%. Harga menu lainnya juga tidak terlalu jauh dari kisaran harga tersebut. Tetapi tentu saja harga tidak menjadi masalah ketika kualitas sudah berbicara, kan? Sayang sekali kualitasnya juga tidak berbicara terlalu banyak.
Gue bisa memulai dari pelayanannya. Entah apakah sedang melakukan penghematan atau menjunjung tinggi azas pluripoten, para petugasnya sangat multifungsi. Satu orang bisa menjadi pelayan/kasir/bartender/janitor. Hal ini membuat pesanan kadang terlupakan di meja kasir (karena tak ada yang terfokus di sana) dan pelanggannya terlupakan begitu saja.
Dalam kasus gue, gue pun harus menunggu cukup lama (dan hampir terlupakan), sampai akhirnya pesanan gue datang dengan lengkap. Apa yang gue pesan? Untuk menu utama, gue memesan rekomendasi pelayannya: nasi ayam saus mangga. Untuk minumannya, gue memesan dua minuman yang terdengar menarik: Green Olala Express dan ice chocolate praline.
Nasi ayam saus mangga-nya tampil dengan kombinasi warna yang memukau: merahnya saus, kuningnya kulit ayam tepung, serta hijau-ungu dari saladnya berpadu menjadi satu. Ayam goreng tepungnya terasa nikmat saat ditambah sausnya yang menggelitik lidah. Selada dan kol ungu dilumuri mayonnaise cukup berhasil menjadi pelengkap rasanya yang kompleks itu.
Overall, rasanya terasa cukup eksotis di lidah. Sayang sekali, menurut gue menu ini belum cukup wah untuk direkomendasikan, selain karena porsinya imut-imut, rasanya juga mengingatkan gue pada ayam goreng CFC dicolek sambel ABC.
Bagaimana dengan minumannya? Green Ohlala Xpress, sebagaimana gue kutip secara tepat dari deskripsi mbak pelayannya adalah: “mix dari sayuran hijau dan buah, tapi rasanya enak”.
Sayang sekali itu semua hanyalah dusta.
Bagian tentang campuran dari sayuran dan buahnya memang benar, tapi bagian tentang enaknya SAMA SEKALI tidak mendekati kenyataan akan cairan-hijau-encer di depan mata gue. Cukup tentang hal ini. Terlalu terkhianati untuk bisa mendeskripsikan rasanya.
Syukurlah gue masih memiliki back-up plan: ice chocolate praline yang gue pesan benar-benar menjadi penyelamat. Yang pertama gue sadari, wanginya cukup menggugah. Nampaknya mereka juga memasukkan wafer saat blending untuk memberikan tekstur dan aromanya yang khas. Sebagai tambahan, diberikan juga topping kacang almond. Semuanya berpadu secara sempurna di dalam mulut dan memberikan kenikmatan yang elegan! Gue bisa membayangkan sedang menikmatinya bersama deretan pastry yang juga dijual di sini.
In the end, Ohlala Xpress ternyata tidaklah secepat namanya. Mungkin karena masih dalam masa soft opening sehingga masih harus ada beberapa pembenahan di sana-sini sampai bisa berjalan secara maksimal. Di sisi lain, suasananya yang cukup cozy dan pilihan menu a la café-nya menjadi poin yang cukup unggul dari Ohlala.
Kalau harga bukanlah masalah dan kamu mencari tempat untuk santai sesekali, Droo merekomendasikan tempat ini ke kamu. Tapi kalau kamu mencari tempat untuk makan berat,/kenyang/murah, gue merekomendasikan kamu… meminta orang mentraktir di sini. Karena itu semua, gue memberikan Ohlala Xpress nilai TIGA dari LIMA bintang saja. (droo)
P.S. For the pics of the food, you just have to get a copy of the latest Medicinus. ;-)
17 Maret 2009
The One Where a Picture Worths a Thousand Words
Berikut adalah hasil scanning PC di rumah dengan menggunakan Avira.
....
*nangis darah*
12 Maret 2009
The One With a Goat Movie
Mari kita membicarakan sebuah filem Indo yang mungkin menjadi salah satu waiting-list di tahun 2009 ini, Kambing Jantan. Kalo kamu suka ngikutin blog si Raditya Dika, rata-rata kamu pasti udah tau apa yang terjadi dalam proses menuju keluarnya filem ini.Setelah menunggu beberapa hari udah premier di 21 Jatos, akhirnya gue berkesempatan juga nonton filem ini. Komentar gue? Hm, ada banyak dialog cerdas dan kocak yang dituliskan dalam skenarionya, sebagaimana sering kita baca dari tulisan-tulisan Dika. Tapi, in real life, untuk bisa membuat dialog itu terdengar lucu perlu skill yang cukup kuat. Mungkin itu satu kekurangan film ini.
Raditya Dika, yang memeranin dirinya sendiri di sini, mungkin masih perlu mempelajari cara intonasi dialog-dialognya sendiri sehingga joke-nya bisa terasa. Beberapa kali dialog atau act, yang sebenarnya lucu banget secara tulisan, menjadi kurang greget begitu disaksikan langsung seperti ini.
Kedua, film ini, sebagaimana Dika sudah sering bilang dalam blognya, memang bukan pengkonversian langsung buku pertama Dika yang berjudul sama. Kalau gue boleh berpendapat, menonton film ini malah serasa menonton behind the scene bagaimana buku tersebut bisa dipublikasikan. Dika seolah blak-blakan tentang kehidupannya, terutama tentang relasi dia dengan Kebo, pacarnya sewaktu itu dan Nyokap-nya. Beberapa hal yang dulu rasa-rasanya tidak begitu dijelaskan di blognya, muncul di sini, seolah menjawab pertanyaan pembacanya.
Dan, hal itu benar-benar membuat sedikit rasa aneh ketika menonton filmnya. Knowing kalau film ini diangkat dari kisah nyata, membuat gue harus berpikir setiap kali.. mana yang sebenarnya real, mana yang sebenarnya hiperbolisme, mana yang total fiktif.
Di awal film, gue yang masih memilah-milah tiap scene yang ada justru menjadi sering kebingungan dan jadi gak enjoy dengan komedi yang ditawarkannya. Gue yakin selama film ini diputer, gue sering sekali merespon tiap scene yang ada dengan: "Ini maksudnya apaan sih?" saking krik, kriknya adegan itu terasa.
Di awal film, gue yang masih memilah-milah tiap scene yang ada justru menjadi sering kebingungan dan jadi gak enjoy dengan komedi yang ditawarkannya. Gue yakin selama film ini diputer, gue sering sekali merespon tiap scene yang ada dengan: "Ini maksudnya apaan sih?" saking krik, kriknya adegan itu terasa.
Baru di akhir-akhir film, ketika bagian dramanya sudah makin dominan, kekuatan film ini sebagai sebuah film (bukan sebagai sebuah cerita yang diangkat dari kisah nyata) membuat gue menikmati menontonnya. Saran gue, kalo kamu udah pernah baca cerita-cerita Dika, nikmatilah film ini sebagai sebuah film yang benar-benar film. Bukan sebuah film yang diangkat dari sesuatu (entah itu hidup seseorang ataupun buku), maka kamu bisa menikmatinya.
BTW, isn't it weird, bermain di film di mana lo memerankan diri sendiri, dan mengulang (atau mendramatisir) beberapa kejadian di hidup lo yang pernah terjadi sebelumnya, either good or bad, dengan orang lain? Walau Dika pernah bilang dia lebih nganggep bermain di film ini sebagai memainkan sebuah drama yang baru, wouldn't it still feel weird?
Dan lagi, seandainya lo menjadi salah seorang tokoh yang diangkat ke film itu, wouldn't it still be weird melihat bagaimana karakter lo digambarkan? Walaupun sudah tahu, sedikit-banyak, karakter tersebut udah dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan cerita, but, still...
Hal tersebut membuat gue jadi bertanya-tanya.
Seandainya blog ini diangkat juga jadi sebuah media baru, film anggaplah, bagaimana karakter-karakter di sini akan digambarkan ya? Dan, siapa yang akan memerankan GUE?
Hmm.


Ahahah.
Iya, gue tau. Gue lebih ganteng. *dibunuh*
Dan lagi, seandainya lo menjadi salah seorang tokoh yang diangkat ke film itu, wouldn't it still be weird melihat bagaimana karakter lo digambarkan? Walaupun sudah tahu, sedikit-banyak, karakter tersebut udah dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan cerita, but, still...
Hal tersebut membuat gue jadi bertanya-tanya.
Seandainya blog ini diangkat juga jadi sebuah media baru, film anggaplah, bagaimana karakter-karakter di sini akan digambarkan ya? Dan, siapa yang akan memerankan GUE?
Hmm.


Ahahah.
Iya, gue tau. Gue lebih ganteng. *dibunuh*
05 Maret 2009
The One With Random Thoughts of Growing Older
Terkadang gue bingung harus bersikap bagaimana. Sometimes I feel gue terlalu konyol dan bersikap childish terhadap suatu problema, karena itu gue mencoba untuk bersikap lebih serius. Tetapi ketika gue mencoba serius dengan fokus gue tersebut, orang-orang justru bilang kalo gue jadi terlalu,... I don't know, galak? Jutek?
Weird.
I know, gue masih dalam tahap perkembangan kepribadian gue dan kesalahan itu wajar adanya. But sometimes, I just feel so disappointed in myself. Those manuals and handbooks for communication don't work really well in reality. (Atau mungkin masalahnya memang di gue aja, bukan di bukunya).
Dalam pekerjaan gue sebagai ketua seksi Media Informasi, salah satu seksi di senat kampus gue, gak hanya sekali gue menemukan masalah yang berhubungan dengan hal tersebut. The rough outlook I have sometimes gives the wrong impression to people I talk to.
Fffgh. Interpersonal skill is fucking hard, guys.
I found it hard to share my thoughts to the world too, since people in reality don't work really well with my points of view. Untuk share di dunia maya pun juga menjadi sulit, karena sudah terlalu banyak orang yang 'tersentuh' teknologi sekarang. Hehehe. Writing here these days isn't the same like it used to be, guys.
Dulu gue berpikir setiap orang berpikiran se-liberal gue, dan semakin kita bertambah dewasa pikiran kita (semestinya) semakin terbuka akan hal-hal baru. Ternyata, setelah beberapa saat gue pun menyadari kalau: gue-lah yang belum dewasa itu karena pikiran gue belum terbuka bahwa ada juga orang-orang yang semakin dewasa, pikirannya tidak menjadi semakin open-minded akan beberapa hal. That's a new thing too, isn't it?
(Hahaha, bingung bacanya? Diresapi saja dulu, kalau begitu. :P)
Well, my mood's getting a bit better now. Gue tadi kepikiran tentang kelompok belajar gue yang mendadak gak mau kumpul lagi. Weird, mereka yang minta dibentuk dulu, tapi kini giliran udah dibentuk lain lagi ceritanya. Kita jadi semakin sulit melakukan komitmen yang udah disetujui bareng-bareng sebelumnya. Knowing that, gue berbicara dengan ketua kelompok dan ternyata dia sendiri udah gak ada niat meneruskan kelompok tersebut.
Singkat cerita, gue mencoba untuk bersikap tegas di sini, tapi mungkin it turned out to be "flat, damn angry" sehingga tentu saja tidak mendapat feedback yang baik dari lawan bicara gue.
Fffh.
Satu hal yang gue pelajari lagi dari sini, mungkin sebaiknya gue tidak usah terlalu memikirkannya. I worried too much that we would do nothing, so I constantly reminded all the people in the group about it. It turned out the exact, same thing that I didn't expect.
Yeah, learn something new every day.
Jadi, seperti buku dongeng anak-anak jaman dulu, moral dari cerita kali ini adalah:
1. Try to balance between 'jutek' and 'childish'. Menjadi fleksibel adalah yang terbaik, tentu saja.
2. Menjadi lebih open-minded akan keberadaan orang-orang yang tidak sebegitu open-minded. (Gee, betapa majemuknya ya kalimat ini?).
3. Listen more. Talk less. Use-words-in-high-piched-voice less. Worry less. And things will go just fine.
Duh, serius amat ya postingannya. Hahaha, ya udahlah. Yuuuks.
P.S. Oh ya, gue belum cerita juga tentang film pendek yang gue mainin itu. Syuting dan paska produksi udah selesai. I've watched the movie, dan gue menyadari betapa gue sangat berairmata buaya saat berakting. Gonna talk more about it (probably), see ya.

