23 Juli 2009
The One With the Self-Titled Local Food Critic of Jatinangor
Oke, jadi sebagaimana yang beberapa orang ketahui, sudah beberapa edisi terakhir ini gue freelancing di majalah kampus, Medicinus, untuk jadi food critic mereka. Yiiy. See, how cool is that to be called a freelancing food critic (baca: orang yang gak dibayar untuk melakukan tugasnya yet tetap dikejar-kejar pimred dengan death threat menjelang deadline)?
Dan, (sepertinya) semenjak insiden pre-publishing post yang gue lakukan dulu, Medicinus punya semacam unwritten policy untuk TIDAK mempublikasikan artikel sebelum edisi riilnya terbit. Well, bangga sekali rasanya bisa ikut berkontribusi dalam pengembangan sebuah redaksi. *digetok* Hehehe.
Anyway, udah beberapa minggu semenjak edisi terakhir terbit, (dan TIDAK ada policy yang meralang post-publishing kan? CMIIW), here it goes, my latest review. Enjoy. ;-)
KEDAI BABEH: GIMANE GITU YEE?
Oke, jadi tempat makan apa yang akan kita kunjungi hari ini? Well, ketika Ababil, sang pimred, kembalimemohon-mohon, er, menugaskan gue untuk menulis artikel kali ini, gue sempat sedikit bingung. Man, gak ada lagi yang seru di Jatinangor untuk di-review!
Ababil minta gue menulis tentang tempat makan langganan gue, tapi masa sih gue harus nulis tentang kikil dan telor goreng di warteg langganan gue itu? Gak banget kan. Semestinya kita me-review tentang orek tempe dan terong baladonya! Itu yang the best dari Tegal Jaya, kita semua tahu itu.
Ketika gue sudah semakin depresi dan hampir jeduk-jedukin kepala ke tembok, tiba-tiba seseorang memberitahukan gue mengenai satu tempat makan baru, agak terpencil dan terlupakan oleh gue: KEDAI BABEH di daerah Ciseke. Yeah, mungkin pemiliknya terinspirasi oleh Si Doel Anak Sekolahan ketika sedang mencari nama.
Oke, jangan terganggu dengan outlook tempat makan ini yang memang agak sedikit, er, kumuh dan jauh dari estetika. Terletak nyempil di antara warung-apa-sih-namanya dan tempat-makan-apa-gitu, Kedai Babeh terlingat sangat tidak menonjol. Gue aja gak tahu ini tempatnya kalau tidak membaca spanduk namanya dengan teliti. Tetapi, tentu saja, sebagaimana sebuah peribahasa yang selalu gue pegang teguh: “Sedia payung sebelum hujan”, gue pun memberanikan diri untuk masuk (mulai gerimis soalnya di luar).
Membaca menu masakannya, gue merasa cukup tertarik. Ada banyak ragam pilihan yang bisa kamu pilih dari sini, mulai dari seafood, sapi, sayur-mayur sampai nasi goreng. Gue pun memilih menu nasi putih, udang asam manis dan kangkung cah sebagai pelengkap lambung gue saat itu.
Bagaimana dengan minumannya? Sayang sekali, tidak seperti counterpart-nya, Kedai Indra, tempat ini tidak menyediakan variasi minuman yang bisa kamu pesan. Sebagai gantinya, gelas dan ceret air putih tersedia untuk kamu yang kehausan. Self-service, lhoo!
Ngomong-ngomong, sedikit saran buat kamu: pilih waktu untuk makan di sini karena tempat ini lumayan penuh di jam enam sampai delapan malam. Memang, tempat ini tidaklah seramai—untuk perbandingan kita pakai saja—Kedai Indra, tetapi karena kokinya hanya berdua, siap-siap saja untuk menunggu beberapa waktu.
Nah, setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pesanan gue datang juga. Mari kita coba deskripsikan penampilannya. Kangkung cah gue nampak selayaknya sebuah... kangkung yang dicah.
...
Ya. Percayalah. Tidak ada deskripsi yang lebih akurat lagi selain itu.
Lain halnya dengan udang asam manis yang juga gue pesan. Dari awal, permainan warna dan baunya begitu menggoda. Warna keemasan kulitnya yang digoreng tepung dipadukan dengan saos asam manisnya yang kemerahan berhasil membuat nuansa orientalnya terasa.
Enough with the look. Bagaimana dengan rasanya? Mari kita coba satu per satu. Gue mengambil sesendok kangkung cah-nya dan perlahan-lahan mulai memasukkannya ke dalam mulut. Detik pertama kuahnya menyentuh lidah gue, sebuah sensasi pun terasa. TERNYATA, rasanya sungguh terasa seperti sebuah... kangkung cah biasa.
...
Oke, gue sudah mencoba untuk menuangkan segala kreatifitas yang ada di otak gue, tapi hanya itu kalimat yang terpikir.
Apa? Anda tidak terima? Mana sense of appreciation-nya terhadap kami para pelaku seni, eh? Kami juga punya hak untuk menyampaikan pendapat kami dong! Gue saja kalau menulis di blog gue (yang alamatnya di http://desperadroo.blogspot.com kalau ada yang penasaran) bebas menyuarakan pendapat! Masa di sini tidak? *dibunuh pimred dan CEO Medicinus karena promosi terselubung*
Anyway, udang asam manisnya benar-benar menarik. Dengan harga yang cukup murah, gue sudah bisa menikmati udang asam manis yang cukup wuenak. Saos asam manisnya yang segar meresap ke dalam kulit udangnya. Gigitan pertama gue terasa cukup renyah dan menyegarkan. Apalagi ditambah dengan topping acarnya. Benar-benar sebuah sensasi kuliner yang lumayan berbeda dibandingkan dengan restoran oriental-wanna-be lainnya di Jatinangor.
Overall, sebenarnya gue cukup puas dengan apa yang gue pesan kali ini. Hanya dengan Rp 15.000,00 gue mendapatkan nasi dan dua menu makanan yang porsinya lumayan banyak juga. Selain itu, tempat ini bisa jadi alternatif buat kamu yang mau coba-coba mengganti menu makan harian kamu karena banyaknya variasi yang ditawarkan.
Kekurangannya adalah tempatnya yang cenderung agak kurang oke dan juga beberapa menunya terasa, er, gimana gitu ya... Biasa aja. Yang berarti: gak jelek, tapi juga gak oke-oke amat, sih. Ya, biasa aja. Tapi lumayan kok!
Er, ribet amat, ya? Daripada bingung sendiri, mungkin lebih baik kalau kamu coba langsung aja makan di sini. Mungkin sekalian kamu bisa bertanya apakah pemiliknya penonton setia Si Doel? Eheheh. Anyway, gue memberikan nilai DUA SETENGAH dari LIMA BINTANG untuk Kedai Babeh. Have fun and happy eating, guys!

