03 Mei 2009
The One With the Pathophysiology
Sebenarnya gue gak mau nulis postingan ini, in fact, gue malah udah punya draft kasar di kepala gue tentang apa yang rencananya akan gue tulis: pengalaman gue ikutan mini konser PSM FK Unpad hari Sabtu kemarin. (Iya, gue! Gue lho yang nyanyi!).
Tapi, kayaknya gue terlalu
Jadi, apa kabar? What news, kalo terjemahan bebasnya.
...
Oh, shit. Laptop goblok gue baru saja membuat gue tidak sengaja menghapus satu alinea penuh postingan gue. Jadi, gue harus mulai lagi menulisnya. *keluh*
So, *rewrite* apa yang hangat? Hari ini gue bolos kuliah dan dengan semena-menanya menggunakan surat ijin sakit yang gue punya untuk itu. Hm, gak sebegitu semena-mena juga sih. Surat sakit itu digunakan sesuai kebutuhannya. Hari ini gue kebangun dan mendadak diare parah. Itu sakit kan? Selain itu, gue juga cukup yakin kalau Asosiasi Psikiatri Amerika mengklasifikasikan kondisi gue saat ini sebagai sebuah penyakit serius: mood disorder.
Itu sakit juga. One real disease, kalau gue mau berargumentasi. (Tapi, tentu gue tidak akan menggunakan alasan penyakit #2 gue ini saat nanti melapor ke tutor gue).
Dan, sekarang, gue sedang berada di food court Jatos, di mana, di kejauhan yang sebenarnya-gak-jauh-jauh-juga sih, kang Harry Mahathir dan sang kekasih, Putri sedang asyik lunch date.
Dan dua pertanyaan langsung muncul di kepala gue saat ini:
1. Lho, baru jam segini, angkatan 2005 dan 2008 udah gak ada kuliah ya? Kok bisa santai banget makan di sini? :O Wah, serunya. Baru satu hari gue gak kuliah dan ternyata gue udah kehilangan kabar tentang kalender akademis kampus.
2. Kok kayaknya kemejanya kang Harry sama dengan yang dia pakai hari Sabtu kemarin ya? Garis-garis vertikal hitam putih yang kontras. Ah, ya sudahlah. Bukankah penghematan sabun cuci akan membantu kita menyelamatkan bumi ini. ;-)
Uh, oh. There they go. Dan selagi gue mengalihkan pandangan gue untuk menulis tentang ini, mejanya sudah langsung bersih dari sisa-sisa piring mereka. GILEEE. Janitor di sini oke juga.
Oke, kembali ke topik.
Jadi sebenarnya apa yang terjadi? Kalau kamu kenal gue cukup dekat, kamu pasti tau (wait, gue lupa--gak ada orang yang mengenal gue sedekat itu. Bahkan gue sendiri kadang bingung dengan diri gue) kalo gue gak akan berani melakukan hal senekat ini. Yeah, bolos menurut gue adalah salah satu hal nekat. Poor me.
Tunggu. Gue gak bolos. Gue lagi sakit. Ini pembelaan dari gue untuk satu orang yang pasti akan nyap-nyap begitu tahu gue dengan gampangnya gak masuk kuliah hari ini. Thanks, Prys. (Geer amat ya gue, padahal dia juga belum tentu baca blog ini, ATAU, akan sebegitu pedulinya.. Ahahaha).
...
Baru membaca ulang tulisan di atas. See?
All those second thoughts I'm adding to my sentences. Ditambah dengan fakta gue mendadak mupeng banget dengerin lirik lagu dari headphone gue sekarang dan meresapi maknanya, SANGAT menunjukkan ada yang salah dengan kondisi mood gue sekarang (!).
(BTW, it's Adhitya Sofyan's Adelaide Sky that I'm listening to now, if you're wondering).
Mungkin hanya krisis identitas singkat atau semacam shock singkat akibat perubahan drastis. Teori pertama basi banget. Teori kedua lebih gue percaya. Gue yang beberapa hari ini sudah terbiasa banget latihan PSM sampai malam, ngobrol-ngobrol, bercanda dengan temen-temen choir gue, dan sampai akhirnya kemarin Sabtu kita berhasil juga menyelesaikan konser itu dengan (cukup) sukses, sekarang gue udah harus kembali ke realita.
Realita yang berarti: bangun pagi secara rutin jam delapan, mengerjakan pe-er dalam kecepatan super, memfotokopi, mandi, ngebut ke kampus, sampai dengan terlambat, tutorial, makan siang, lab activity dan kembali ke kamar untuk menonton tivi dan sinetron. Hoeks.
Hahaha, gue rasa psikis gue kurang cukup siap melewati perubahan sedrastis itu hanya dalam 24 jem kurang. Buktinya, hanya 17 jam setelah hari Sabtu, gejala-gejala psikosomatis itu sudah semakin nyata: tekanan darah gue mendadak turun, keringet dingin, mual-mual, lightheaded.
19 jam setelah hari hari Sabtu: gangguan mood itu mulai muncul. Dan, karena gue adalah orang yang sangat psikosomatis (dari psikis berpengaruh ke tubuh), sepanjang malam itu dada gue kerasa ngilu banget dan gue mulai sesak napas. Ahahaha. Dan tentu saja, apalah definisi depresi, tanpa adanya kehilangan semangat hidup? Sepanjang malam itu gue hanya mau tergeletak di kasur gue, despite kebelet/laper/mual/dkk.
Aneh. Gue selalu beranggapan, tahapan pertama menyembuhkan diri, adalah menyadari bahwa diri lo sedang mengalami sakit itu. Tapi itu tidak berfungsi buat gue kemarin malam.
Gue mengerti sakit di dada gue ini diakibatkan sistem saraf simpatetik gue teraktifasi, mengkonstriksikan pembuluh darah di sekitar dada, menyebabkan jaringan di sekitarnya kekurangan nutrisi, mengeluarkan mediator untuk rasa sakit yang kemudian ditangkap receptor di sekitarnya, untuk kemudian dibawa dan diterjemahkan di otak gue sebagai: "Heh, dada lo sakit tuh!".
Gue mengerti kalau penyebab itu semua, those whole mood disturbances, juga berasal dari dalam kepala gue aja. Dopamine gue, entah kenapa, mungkin mendadak hilang dari peredaran dan ditangkap oleh kepala gue sebagai: "HEI, AYO KITA BUAT BOCAH TOLOL INI DEPRESI DAN KEBELET PIPIS DI WAKTU YANG SAMA!".
Hooray.
Untung gue gak ngompol semalem dan memaksakan diri ke toilet. Wekeke.
DAN, sekarang, semuanya masih berdampak ke hari ini. Untuk mereview singkat, kalau lo ke foodcourt Jatos sekarang, lo akan menemukan satu bocah nerdie di pojokan sedang sibuk ngetik sesuatu di laptopnya dengan muka pervert-masang-tampang-polos.
Saat kayak gini, punya pacar kayak kang Harry tadi seru juga ya. (Ah, isn't this one nice blog post? Apa yang gue tulis di awal, terangkum lagi di akhirnya! Hahaha).
Tapi, apa benar punya pacar akan membantu? Setelah gue pikir-pikir lagi, rasanya gak juga. Maybe I just need a friend. One friend that could help me getting away from this.
Hahahaha. Yeah, I know.
Kayak kurang aja, kan? Orang-orang (dan mungkin kamu) biasanya melihat gue sebagai seseorang yang selalu heboh berada di tengah keramaian. Masa sih orang seperti ini bisa merasa seperti itu?
Yeah. Gue harus keluar dari dinding kaca yang gue bangun sendiri. So, remind me guys the next time you'll see me, have I stepped out? Atau jangan-jangan sebenarnya gue sedang membangun dinding kaca yang lebih tebal lagi sekarang dengan menulis ini?
Whew. Itulah ironi kehidupan! ;-) Apa ada juga yang suka merasa seperti ini sekali waktu? Hm. I wonder.
Anyway, sampai sini dulu sesi curcolnya. Paling juga besok pagi gue udah biasa lagi dan menyesali, KENAPA, oh, KENAPA, gue menghabiskan dua jam dalam hidup gue untuk ngetik postingan ini dan BUKANNYA NGERJAIN TUGAS-TUGAS YANG UDAH NUMPUK?
Ahahaha.
Udah ah, chao. Waktunya kembali ke realita. :p

