05 Maret 2009
The One With Random Thoughts of Growing Older
Terkadang gue bingung harus bersikap bagaimana. Sometimes I feel gue terlalu konyol dan bersikap childish terhadap suatu problema, karena itu gue mencoba untuk bersikap lebih serius. Tetapi ketika gue mencoba serius dengan fokus gue tersebut, orang-orang justru bilang kalo gue jadi terlalu,... I don't know, galak? Jutek?
Weird.
I know, gue masih dalam tahap perkembangan kepribadian gue dan kesalahan itu wajar adanya. But sometimes, I just feel so disappointed in myself. Those manuals and handbooks for communication don't work really well in reality. (Atau mungkin masalahnya memang di gue aja, bukan di bukunya).
Dalam pekerjaan gue sebagai ketua seksi Media Informasi, salah satu seksi di senat kampus gue, gak hanya sekali gue menemukan masalah yang berhubungan dengan hal tersebut. The rough outlook I have sometimes gives the wrong impression to people I talk to.
Fffgh. Interpersonal skill is fucking hard, guys.
I found it hard to share my thoughts to the world too, since people in reality don't work really well with my points of view. Untuk share di dunia maya pun juga menjadi sulit, karena sudah terlalu banyak orang yang 'tersentuh' teknologi sekarang. Hehehe. Writing here these days isn't the same like it used to be, guys.
Dulu gue berpikir setiap orang berpikiran se-liberal gue, dan semakin kita bertambah dewasa pikiran kita (semestinya) semakin terbuka akan hal-hal baru. Ternyata, setelah beberapa saat gue pun menyadari kalau: gue-lah yang belum dewasa itu karena pikiran gue belum terbuka bahwa ada juga orang-orang yang semakin dewasa, pikirannya tidak menjadi semakin open-minded akan beberapa hal. That's a new thing too, isn't it?
(Hahaha, bingung bacanya? Diresapi saja dulu, kalau begitu. :P)
Well, my mood's getting a bit better now. Gue tadi kepikiran tentang kelompok belajar gue yang mendadak gak mau kumpul lagi. Weird, mereka yang minta dibentuk dulu, tapi kini giliran udah dibentuk lain lagi ceritanya. Kita jadi semakin sulit melakukan komitmen yang udah disetujui bareng-bareng sebelumnya. Knowing that, gue berbicara dengan ketua kelompok dan ternyata dia sendiri udah gak ada niat meneruskan kelompok tersebut.
Singkat cerita, gue mencoba untuk bersikap tegas di sini, tapi mungkin it turned out to be "flat, damn angry" sehingga tentu saja tidak mendapat feedback yang baik dari lawan bicara gue.
Fffh.
Satu hal yang gue pelajari lagi dari sini, mungkin sebaiknya gue tidak usah terlalu memikirkannya. I worried too much that we would do nothing, so I constantly reminded all the people in the group about it. It turned out the exact, same thing that I didn't expect.
Yeah, learn something new every day.
Jadi, seperti buku dongeng anak-anak jaman dulu, moral dari cerita kali ini adalah:
1. Try to balance between 'jutek' and 'childish'. Menjadi fleksibel adalah yang terbaik, tentu saja.
2. Menjadi lebih open-minded akan keberadaan orang-orang yang tidak sebegitu open-minded. (Gee, betapa majemuknya ya kalimat ini?).
3. Listen more. Talk less. Use-words-in-high-piched-voice less. Worry less. And things will go just fine.
Duh, serius amat ya postingannya. Hahaha, ya udahlah. Yuuuks.
P.S. Oh ya, gue belum cerita juga tentang film pendek yang gue mainin itu. Syuting dan paska produksi udah selesai. I've watched the movie, dan gue menyadari betapa gue sangat berairmata buaya saat berakting. Gonna talk more about it (probably), see ya.

