http://desperadroo.blogspot.com/feeds/posts/default
27 November 2008
The One From the Journalistic Training

Okay, so they told us to write anything in this journalistic training. Gue pikir, sekalian aja gue ngetik buat blog gua. Hahaha. Dasar memang jiwa ekonomi—mempraktikkan segala sesuatu dengan seefisien mungkin. (Sebenarnya sih cuma karena gua lagi males nge-blog aja, hahaha).

Anyway, apa yang harus gue tulis di sini?

Basically, tidak ada yang penting—selain kenyataan bahwa hidup gue sedang mengarah menuju kondisi armageddon tahap kedua.

Darimana gue harus bicara?

Oh, oh. Gue tahu—mari kita membuat list. I love making list.

SEPULUH ALASAN KENAPA HIDUP GUE ADALAH ARMAGEDDON TAHAP KEDUA (KECUALI BAGIAN DI MANA PEMERAN UTAMANYA BOTAK DAN BRUCE WILLIS)
Oleh Andrew Handisurya.


1. Lusa adalah hari pelaksanaan kegiatan seminar dan long-march dari SCORA, divisi gue dalam organisasi CIMSA yang bergerak dalam bidang HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi.

Lusa, yang berarti 2x24 jam lagi kalau misalnya belum jelas, adalah hari kegiatan acaranya DAN sampai detik ini juga panitia, peserta sampai segala macam tetek bengeknya belum jelas. ARGH.

2. Gue tidak memegang kendali lagi dalam hidup gue.

3. Oh, ralat. Memang SEDARI AWAL, gue tidak memegang kendali apa-apa—ketua organisasinya Tiara, dan ketua panitianya sebenarnya Naufal. Lalu sebenarnya apa posisi gue di sini? Kenapa gue stress sendiri. Argh.

Oh ya, gue tahu—karena Tiara sedang ikut konferensi mahasiswa di Jakarta DAN Naufal is nowhere to be found at this moment. Shalalala.

4. Yang membawa kita ke poin berikutnya, kemungkinan besar gue adalah pengidap sado masochism tahap tinggi—saking senangnya gue menyiksa diri gue dengan hal-hal yang gak penting—dengan gejala pencemas yang berlebihan. Shalalala.

5. Yang juga membawa kita ke poin berikutnya, karena kecemasan gak penting dan gak beralasan gue inilah, gue kemarin malam bergadang sampai jam tiga pagi cuma untuk ngebuat list tugas tiap orang di kepanitian—which is exactly SO not my job description there, tapi, hei, gue udah bilang gue terlalu mencemaskan segala hal kan?

6. Dan sekarang di sebelah gue, Rasyid is reading OUT LOUD my essay THAT I STILL HAVEN'T FINISHED YET. Shit.

7. Mari kita berlanjut, bergadang membuat hidup gue sangat tidak sehat. Bergadang membuat kondisi gue saat ini mengerikan. Sign and symptoms-nya meliputi: pusing-pusing, sakit maag akut, diare tanpa sebab dan segala macam hal lainnya.

8. Padahal hari ini gue masih ada jadwal kegiatan lain.

Ohmaigod, hari ini benar-benar kayak hari terpadat gue di dunia. Habis dari pelatihan jurnalistik ini, sebenarnya gue harus ngasih pemberitahuan di rapat CIMSA, organisasi inti gue itu (kita butuh bantuan anak-anak CIMSA semua untuk bantuin kita lusa), dan ngebuat simulasi SCORA untuk anak-anak 2008 CIMSA yang baru masuk.

9. Kalau begitu kenapa gue di sini sekarang dan masih mengetik esai curhat macam ini? Oh, HP gue bergetar—and I don’t even care to pick it up now saking hebohnya gue mengetik.

10. Lima menit lagi waktunya habis untuk menulis esai dan gue belum selesai mengetik apa-apa. Eh, ralat, waktunya sudah habis malah. Gue bahkan belum selesai bercerita betapa hecticnya hidup gue ini dengan lugas. Ahaha. Shalala, tralala.


Eh, apa tadi katanya? Esai ini mau dibaca?

Tapi kan ini gue ketik di laptop—SEMENTARA orang-orang lain menulisnya di kertas. Dasar gue memang terlalu malas menulis dengan kertas.

Bagaimana caranya gue memberikan ini ke mas-mas trainer tersebut? Should I give it in a flash disk or not? Atau di-print? Mimpi aja kali ngeprint. Printer dari mana di tempat pelatihan ini.

Hahahaha.

Udah ah gue gak minat buat nulis apapun lagi di sini. Gue benar-benar sudah harus berangkat ke kampus sekarang dan memimpin (?) rapat kepanitiaan.

Tunggu, gue lupa. Gue bukan ketuanya. Shit.
23 November 2008
The One With "Nyi Blorong Vs Nyi Roro Kidul"

Kayaknya gue dikutuk sama sutradara film Pocong Vs Kuntilanak.

Yeah, entah mengapa, semenjak hari gue mem-posting review film tersebut di blog, sesuatu 'berubah' di kamar kosan gue. Yeah. *memasang tampang mistik ala Tessy Kabul* Seolah-olah: gue merasakan ada 'kehadiran' sosok lain di kamar gue.

Kayak gini misalnya. Sewaktu gue tiduran, tiba-tiba tembok di sebelah kasur gue berdesis.

Yeah. Berdesis.

Sssh.

Gituh.

Bukan, bukan pruuut. Itu mah bunyi Eri lagi kentut.

Untuk menggambarkannya bagi para pembaca sekalian, tempat tidur gue terletak sejajar-mepet dengan tembok. Jadi kalo gue tidur nyamping, muka gue langsung nemplok ke tembok. Tepat di samping ranjang gue, satu cermin gede langsung mejeng di sana--suatu hal yang kalo menurut feng shui, tabunya bukan main. Gak penting, tapi cerita aja. *digetok*

Kembali ke leptop, apakah mungkin gue mendadak bisa parseltongue seperti Heri Potret? Walaupun tentu saja, gue mewarisi kemiripan ketampanan layaknya Daniel Radcliffe, kemungkinan tersebut langsung gue coret dari kepala gue mengingat belum satu ekor uler kobra pun curhat ke gue.

Terus apa dong bunyi ajaib yang gue denger di tembok gue itu?

FYI, desisnya beda gituh. Serasa bukan berasal dari balik tembok itu, tapi seolah-olah di tembok itu. Kayak ada orang gesek-gesekin jarinya di tembok sebelah kasur gue.

...

Ah, sudahlah. Think something else, think something else. Think happy thought. Think funny thought. Ah ya, bukunya si Raditya Dika aja. Konyol-konyol kan tuh.

Pikiran gue pun bergerak cepat ke salah satu bab di buku Babi Ngesot-nya Raditya Dika yang baru gue baca (gratisan di Gramed, tentu saja. Sori, Dik!). Ceritanya, buat yang belum pernah baca, tentang si Dika yang mendadak dikasih liat cewek penunggu kamarnya.

Dan gue pun langsung teringat pada suara desis-misterius-kayak-jari-digesek-gesek-di-tembok tadi dan fakta kalo cewek biasanya kukunya panjang-panjang.

...

Dari semua buku yang pernah gue baca, KENAPA YANG BEGINIAN YANG GUE INGET? --;;

AAARGH.

Alhasil, gue gak bisa tidur sampai jam tiga pagi. T_T Setiap kali gue nutup mata, yang kebayang di kepala gue adalah si mbak-mbak penunggu kamar mejeng di depan muka gue, dengan jari-jemarinya dimainkan di tembok sebelah gue (!). GIMANA GUE BISA TIDUR COBA!??! T_T

Kayaknya sutradara film Pocong Vs Kuntilanak-nya bener-bener dendam kesumat sama gue.

Ampun, oooom, gue gak akan lagi menghina filem Indonesia. Apalagi yang ada 'versus'-'versus'an di judulnya. Catat itu Ndroo! NEVER, EVER MOCK A MOVIE WITH 'SOMETHING' VERSUS 'SOMETHING' IN THE TITLE.

Siapa tahu lepas dari menggarap film ini, produsernya berniat melancarkan sekuelnya. Macam: "Nyi Blorong VS Nyi Roro Kidul: Sebuah drama perselisihan ibu dan anak yang menggetarkan jiwa raga serta diselipi bumbu misteri (diperankan oleh Kiki Fatmala dan ibunda tercinta)".

Siapa yang tahu kan!? Lebih baik gue berjaga-jaga dari sekarang.
06 November 2008
The One Where God SHOULD Have Mercy

Ketika Hollywood punya Alien VS Predator...


Dan Freddy VS Jason juga ikut mewarnai kancah pertarungan legenda di sana...


Indonesia juga gak mau kalah.

Kini giliran sineas muda Indonesia yang mengadu dua legenda horor dalam negeri. Sebuah film serius yang pastinya digarap dengan cerita yang menegangkan--dijamin membuat kita akan kembali mencintai produk lokal sekaligus menjerit ketakutan.

Ya, kamu gak salah lagi.

Film yang ditunggu-tunggu ini akhirnya tiba juga.

Tanpa pikir panjang lagi, KITA LANGSUNG SAMBUT SAJA:

...



POCONG VS KUNTILANAK (!!!!) di teater terdekatmu sekarang juga.


P.S. God, please have mercy on Indonesian movies.
04 November 2008
The One With the 5 Stages of Grief

Lama gak update. Udah berapa minggu ya berlalu semenjak terakhir ngisi blog ini? *melirik blog yang udah di-lalerin saking busuknya*

Berbicara mengenai laler, jadi inget mobil Honda gue. (Lho, kok nyasarnya jauh banget dari laler ke mobil? Sudahlah, para pembaca sekalian. Terkadang ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa kita jelaskan dengan akal sehat).

Anyway, udah beberapa minggu ini mobil Honda City abu-abu gue gak terlihat lagi batang hidungnya di kosan. Hal tersebut tentu dikarenakan mobil memang tidak didesain untuk memiliki batang hidung. *dibunuh*

Untuk mempersingkatnya, jadi, semuanya ini dimulai dari sebuah telepon di hari Sabtu,

Telepon: Torerereeeeeet... (dering lagu Doraemon)
Droo: Haloh?
Bokap: Halo? Andrew, lagi di mana? Blablabla (panjang lebar). Jadi, mobilnya gimana?
Droo: Ya gitu.
Bokap: Gini, (nada basa-basi) Andrew tahu kan kalau keadaan ekonomi Amerika sekarang, blablabla.. Harga-harga naik, belum lagi ada, blablabla.. Jadi mungkin ada kemungkinan kita harus jual mobilnya. Kepake gak di sana? Blablabla.

Oke.

Hari sebelumnya bokap gue baru memberikan telepon yang kira-kira sama ke gue. Dan, in fact, sejak berBULAN-BULAN sebelumnya gue juga sudah sering diberikan wejangan tentang ini, jadi gue sudah cukup hapal alurnya.

Droo: Gak, gak gitu kepake kok. Paling Andrew pake buat pulang ke Jakarta aja.
Bokap: Oh, gitu ya. Jadi kalau misalnya Papa suruh orang buat ambil BESOK bisa ya?

EH. Tunggu?

BESOK?

Bokap: Iya, besok, nanti Papa minta tolong si blablabla..

Dan akhir telepon itu serasa jauh di awang-awang.

(Berikutnya, kita akan meng-observasi secara langsung bagaimana bentuk Five Stages of Grief diaplikasikan dalam kasus ini).

STAGE I DENIAL

Ah, ini tidak mungkin. Pasti maksudnya bukan besok BESOK kan? Bukan besok Minggu? Besok itu kan artinya sesuatu di masa depan. Mungkin yang bokap maksudkan adalah "suatu saat di masa depan nanti yang entah-kapan-tibanya-gak-tau". Betul sekali. Demikian artinya terakhir kali gue memerika KBBI.

Gue yakin itu. Salahkan KBBI kalau ternyata artian tersebut salah.

STAGE II ANGER

AAAAARRGHHH.

Bokap juga kalo ngejelasin sesuatu juga ribet sih. Berbelit-belit. Kenapa gak dari kemarin sih bilangnya kalau besok Minggu itu langsung diambil? Gue kan belum ambil barang-barang dari dalem mobil. Ada CD case gue, payung, botol minum, papan tulisnya Ababil, dongkraknya Ori, sisa-sisa (BACA: sampah) SCORA dari perayaan World's AIDS Day kemarin, dll, dst.

TUH BANYAK KAN!!

IYA, bokap gue udah bilang tentang hal ini dari berbulan-bulan lalu, tapi tetep aja gak ada tanda-tanda akan segera dilakukan sesuatu. Sementara berita tentang krisis ekonomi Amrik juga baru berapa hari dan BESOK-nya mobil gue udah langsung terjual? Berbicara mengenai spontanitas berlebihan~ *tatapan sinis*

STAGE III BARGAINING

Apa memang tidak ada cara lain selain ini? Coba berpikir. Pasti ada cara lain..

Ooooh, kalo misalnya gak jadi, gue akan merawat mobil ini dengan lebih baik. TIDAK akan lagi gue biarkan buah mangga membuat atas mobil gue penyok. TIDAK akan lagi gue biarkan accu mobil gue selama berbulan-bulan. TIDAK akan lagi gue biarkan kotoran burung melekat di dirinya selama berminggu-minggu.

T___T APA PENGORBANAN INI TIDAK CUKUP JUGA?!??!

STAGE IV DEPRESSION

Ini tidak adil.

Ini tidak adil. Kenapa dia harus direnggut begitu saja dari dalam hidupkuh secepat ini. Umur kami bersama masih muda. Masih banyak hal-hal yang belum sempat kami lakukan bersama selama ini. Mencuci mobil, misalnya.

Hiks, hiks. Kami masih ditakdirkan untuk bersama. Kenapa dunia begitu gigihnya untuk memisahkan kita?? Seperti misalnya ketika dirimu mogok di tengah Bandung karena tidak pernah kupanaskan.. Aku kira kau akan pergi untuk selamanya.. TAPI KINI MENGAPA SEKARANG KAU BENAR-BENAR HARUS PERGI??? T_T

Hiks, hiks. Ini tidak adil. Tidak adiiiil untuk kami berdua. *sambil berlari-lari di tengah deras hujan misterius diiringi lagu India*

STAGE V ACCEPTANCE

Gih, ambil aja deh sono.


Demikianlah kisah singkat antara diriku dan mobil tercintaku (?). Di menit-menit terakhir sebelum akhirnya dirinya dibawa pergi dari hadapan gue untuk selamanya, gue berhasil mengabadikan sosok terakhirnya dengan kamera HP gue dari berbagai sisi..

Momen terakhir bersama...

Sudah jatuh, ketiban mangga pula

Satu gambar, seribu caci maki orangtua


Demikianlah cerita singkat daku dan si mobil. Kini si mobil sudah entah berada di tangan siapa, gue gak tahu. Hiks, aku harap dirimu berbahagia bersama dengan pasangan barumu itu.

Buat teman-teman, apabila suatu ketika nanti kamu melihat sebuah mobil Honda City silver seperti pada gambar di atas, *berbicara dengan tampang serius* ingatlah bahwa dulu mobil tersebut pun pernah penyok kejatohan mangga.

des·per·ate // adj. // Having lost all hope; Nearly hopeless. des·per·a·droo // n. // A hopeless boy; A desperate houseboy; A blog full of desperation.

..desperate for droo?

droo!
- blogger -
- twitter -



"Breathtaaaking!" - Time.

"..one of the most desperate people in this century," - People.

"Empat jempol terangkat!" - Kompas.

"Ya ampuuuun! Dirly aja kalah imut!" - Kawanku.

"Saya pernah melihat yang lebih buruk," - Rita Skeeter, Daily Prophet.


The One With the Wish List
The One With the Naked Truth
The One Where We Should Love Ourselves More
The One Where Mbah Surip Has Gone
The One With a Facebook Stalker
The One With Before and After Pictures
The One With Beer and Cigarrete
The One With the Dragging to Papaya Hell
The One With the Self-Titled Local Food Critic of ...
The One With a Virgin



Agustus 2008
Oktober 2008
November 2008
Desember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
April 2009
Mei 2009
Juni 2009
Juli 2009
Agustus 2009
September 2009
November 2009



Azizah
Caca
Dani
Didi
Ditta
Ery
Kian
Nestri
Shakiena
Thareq

Almira
Ghea
Gina
Indra
Kautsar
Shasha
Zulmi

Audric
Dharma
Harris
Menur
Noni
Nunu
Tria

Alex
Ambudaff
Brian
Budiaman
Cornelia
Gaby
Harnadi
Jesse
Sandy
Shrivastava
Sylvia
Ucrit
Zion

Cinta Laura
Dewi Lestari
Dian Sastrowardoyo
Raditya Dika
Sherina Munaf

Jurnal Ksatria Kastil
Med-Info on the Net






Tata Rias oleh Tim Sari Ayu Ireth Halliwell
Header oleh Droo
Make Up dari GettyImages
Kotak Penggemar dari Shoutmix


Free Web Counter