The One From the Journalistic Training

Okay, so they told us to write anything in this journalistic training. Gue pikir, sekalian aja gue ngetik buat blog gua. Hahaha. Dasar memang jiwa ekonomi—mempraktikkan segala sesuatu dengan seefisien mungkin. (Sebenarnya sih cuma karena gua lagi males nge-blog aja, hahaha).

Anyway, apa yang harus gue tulis di sini?

Basically, tidak ada yang penting—selain kenyataan bahwa hidup gue sedang mengarah menuju kondisi armageddon tahap kedua.

Darimana gue harus bicara?

Oh, oh. Gue tahu—mari kita membuat list. I love making list.

SEPULUH ALASAN KENAPA HIDUP GUE ADALAH ARMAGEDDON TAHAP KEDUA (KECUALI BAGIAN DI MANA PEMERAN UTAMANYA BOTAK DAN BRUCE WILLIS)
Oleh Andrew Handisurya.


1. Lusa adalah hari pelaksanaan kegiatan seminar dan long-march dari SCORA, divisi gue dalam organisasi CIMSA yang bergerak dalam bidang HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi.

Lusa, yang berarti 2x24 jam lagi kalau misalnya belum jelas, adalah hari kegiatan acaranya DAN sampai detik ini juga panitia, peserta sampai segala macam tetek bengeknya belum jelas. ARGH.

2. Gue tidak memegang kendali lagi dalam hidup gue.

3. Oh, ralat. Memang SEDARI AWAL, gue tidak memegang kendali apa-apa—ketua organisasinya Tiara, dan ketua panitianya sebenarnya Naufal. Lalu sebenarnya apa posisi gue di sini? Kenapa gue stress sendiri. Argh.

Oh ya, gue tahu—karena Tiara sedang ikut konferensi mahasiswa di Jakarta DAN Naufal is nowhere to be found at this moment. Shalalala.

4. Yang membawa kita ke poin berikutnya, kemungkinan besar gue adalah pengidap sado masochism tahap tinggi—saking senangnya gue menyiksa diri gue dengan hal-hal yang gak penting—dengan gejala pencemas yang berlebihan. Shalalala.

5. Yang juga membawa kita ke poin berikutnya, karena kecemasan gak penting dan gak beralasan gue inilah, gue kemarin malam bergadang sampai jam tiga pagi cuma untuk ngebuat list tugas tiap orang di kepanitian—which is exactly SO not my job description there, tapi, hei, gue udah bilang gue terlalu mencemaskan segala hal kan?

6. Dan sekarang di sebelah gue, Rasyid is reading OUT LOUD my essay THAT I STILL HAVEN'T FINISHED YET. Shit.

7. Mari kita berlanjut, bergadang membuat hidup gue sangat tidak sehat. Bergadang membuat kondisi gue saat ini mengerikan. Sign and symptoms-nya meliputi: pusing-pusing, sakit maag akut, diare tanpa sebab dan segala macam hal lainnya.

8. Padahal hari ini gue masih ada jadwal kegiatan lain.

Ohmaigod, hari ini benar-benar kayak hari terpadat gue di dunia. Habis dari pelatihan jurnalistik ini, sebenarnya gue harus ngasih pemberitahuan di rapat CIMSA, organisasi inti gue itu (kita butuh bantuan anak-anak CIMSA semua untuk bantuin kita lusa), dan ngebuat simulasi SCORA untuk anak-anak 2008 CIMSA yang baru masuk.

9. Kalau begitu kenapa gue di sini sekarang dan masih mengetik esai curhat macam ini? Oh, HP gue bergetar—and I don’t even care to pick it up now saking hebohnya gue mengetik.

10. Lima menit lagi waktunya habis untuk menulis esai dan gue belum selesai mengetik apa-apa. Eh, ralat, waktunya sudah habis malah. Gue bahkan belum selesai bercerita betapa hecticnya hidup gue ini dengan lugas. Ahaha. Shalala, tralala.


Eh, apa tadi katanya? Esai ini mau dibaca?

Tapi kan ini gue ketik di laptop—SEMENTARA orang-orang lain menulisnya di kertas. Dasar gue memang terlalu malas menulis dengan kertas.

Bagaimana caranya gue memberikan ini ke mas-mas trainer tersebut? Should I give it in a flash disk or not? Atau di-print? Mimpi aja kali ngeprint. Printer dari mana di tempat pelatihan ini.

Hahahaha.

Udah ah gue gak minat buat nulis apapun lagi di sini. Gue benar-benar sudah harus berangkat ke kampus sekarang dan memimpin (?) rapat kepanitiaan.

Tunggu, gue lupa. Gue bukan ketuanya. Shit.

2 orang prihatin:

Lynx mengatakan...

hooii.. udah gue apdet yaa

Desperate Houseboy mengatakan...

Iyaah.