Apa? Jatinangor itu di mana? Ih, gak gaul deh. *dibunuh*
Anyway, gue lampirkan di sini artikelnya, mana tahu ada yang mau baca. (Ada gitu? Hoee).
Kedai Indra: Antara Amnesia, Lalat dan Nasi Gorengnya Yang Gue Cinta
Kalau kamu anak Sayang (yang tinggal di Jl. Sayang, maksudnya, bukan anaknya si Sayang—duh, jayus), pasti pernah makan atau setidaknya lewat di tempat yang satu ini: Kedai Indra, Seafood & Chinese Food.
Yep, tempat makan yang letaknya deket-deketan sama masjid Sayang ini sempat menjadi serbuan mahasiswa se-Jatinangor pas awal-awal masuk paska Lebaran kemarin. Saking ramainya, pembeli yang gak kebagian tempat duduk harus rela menunggu di emperan warung fotokopian sebelahnya. Beh, segitunya?
Nah, biar kamu-kamu pada gak penasaran, Medicinus mengirim saya, alias si Droo, untuk menyelidiki tempat kejadian perkaranya langsung. Ditemani oleh nona Bunga (bukan nama sebenarnya), kami pun lepas landas menuju daerah Sayang pada pukul empat sore untuk melakukan investigasi.
Saran gue sih kalau mau bersantap ria di Kedai Indra, pilihlah jam-jam nanggung seperti pukul tiga ataupun empat sore. Kalau kamu datang pada jam makan malam, seperti misalnya pukul tujuh malam, biasanya tempat ini sudah ramai oleh manusia yang kelaparan. Dan kalau kamu pesan makanan saat jam padat seperti itu, kamu harus siap menunggu pesanan kamu selama berpuluh-puluh menit. (Siap-siap juga kalau pesanan kamu dilupakan sama juru masaknya—sebagaimana yang sering saya derita, hiks! Memang nasib saya selalu dilupakan).
Kembali ke laptop, setelah membaca menu makanan yang ada, nona Bunga—yang sepertinya sedang diet—memilih nasi capcay dan es teh tarik. Gue sendiri—yang sedang diet juga dong—memilih mun tahu dan juga es teh tarik. Oh ya, sama nasi goreng modern juga. (Dan gue masih bertanya-tanya, kenapa diet gue gak pernah berhasil).
Tidak lama kemudian pesanan kami berdua datang DAN begitu juga dengan segerombolan lalat lapar. Saran untuk kamu-kamu, pilihlah meja yang tidak begitu dekat dengan pintu masuk agar terhindar dari serangan para serangga buas. Alternatif lainnya, adalah ber-candlelite ria. Selain bisa mengusir lalat, juga bisa membuat suasana terasa lebih romantis. Hahaha.
Ngomong-ngomong, yang pertama tiba adalah pesanan minuman kami. Teh tarik yang identik dengan negara tetangga kita ini disajikan dengan harga Rp 3500 saja. Teh tarik ini sendiri sebenarnya hanya campuran dari teh dan susu biasa, akan tetapi teh tarik memiliki kepekatan dan kekentalan yang lebih dikarenakan proses pembuatannya yang berbeda dari teh susu biasa. Gue pribadi menyarankan ini sebagai salah satu minuman yang bisa kamu coba di Kedai Indra.
Pesanan kedua gue, mun tahu, datang tidak lama setelah pesanan capcay goreng Bunga tiba. Apabila kita melihatnya secara sekilas, nampak tidak ada perbedaan yang berarti dari kedua menu tersebut. Keduanya menggunakan komposisi sayuran-berwarna-hijau-layu yang sama dan kuah yang sama. Yang membedakan jelas antara menu gue dan Bunga adalah adanya tumis tahu di sana. Sekalian saja kita sebut menu ini sebagai capcay tumis tahu (!).
Agak unik dan mengecewakan, karena menu mun tahu itu sendiri sebenarnya cukup jauh berbeda dengan capcay. Nampaknya koki Kedai Indra menganggap definisi mun tahu sama dengan capcay tumis tahu. Tahu yang digunakan di sini pun tidak terlalu lembut teksturnya—satu hal lagi yang membuat gue lebih kecewa.
Kekecewaan gue sedikit—hanya sedikit tapi—terhibur dengan datangnya menu nasi goreng modern. Nasi goreng sendiri nampaknya menjadi menu andalan di kedai ini. Kamu bisa memesan lebih dari empat variasi nasi goreng—ada biasa, spesial, modern, seafood, kampung, dll, dkk. Feel free to ask the waiter apa bedanya satu demi satu kalau sempat. :P
Dari segi penampilan, paduan warna dari sayur-sayurnya terlihat cukup memikat. Sayang sekali, seperti biasa kokinya selalu melupakan gue sehingga beliau lupa menambahkan hiasan daun selada, dll pada pesanan ini. (Hal ini gue sadari setelah melihat pesanan orang-orang yang berdatangan setelah gue. Huh! Diskriminasi).
Dari segi rasa, gue cinta sekali dengan tekstur nasinya yang tidak berminyak. Kelemahan warung nasgor di Nangor pada umumnya adalah nasinya cenderung berminyak dan lengket. Hal ini tidak gue temukan pada nasi-nasi goreng di Kedai Indra.
Tekstur nasinya yang kering, tidak berminyak ini pun diperkaya dengan kerenyahan sayurnya. Bumbunya juga terasa memikat di lidah—tidak terlalu tawar, juga tidak terlalu berlebihan. Cukup pas untuk selera gue di awal-awal makan. Sayang sekali, belakangan bumbunya terasa kurang merata, sehingga ada bagian yang lebih tawar dibandingkan yang lainnya.
Overall, wisata kuliner gue hari ini terasa cukup-cukup saja, yang berarti tidak WOW BUANGET tapi juga tidak biasa aja. Untuk variasi makanan dan harganya yang cukup ekonomis, Kedai Indra bisa menjadi salah satu alternatif makanan kamu. Tapi siap-siap juga untuk keramaiannya yang terkadang bisa tidak manusiawi dan juru masaknya yang cenderung short-term memory loss. Untuk itu semua, Droo memberikan skor TIGA bintang untuk Kedai Indra.
3 orang prihatin:
hahaha
jadi penasaran pengen nyoba..
eh, harus nyoba juga kwetiau nya!! wedann, banyak buangett porsinya!! kayanya porsi kedai indra tuh emg porsi ber2 dhh... heuuu.
Alma
Ihh,, anak SAYANG belum pernah makan di situ? Paraah..
Caca
Ah, dikit ah porsinya.
Lho.
Pantes gendut ya.. hahaha..
Poskan Komentar