05 Oktober 2008
The One Where It Starts Again
Minggu, 5 Oktober 2008
So, basically, I’m screwed.
Tapi gue memutuskan untuk menghindari mengakuinya secara langsung.
Tanggal 13—yang berarti sebenarnya tinggal delapan hari lagi (!)—adalah deadline staffing divisi Media angkatan ’06. Dan Ajay, dengan cukup nekat, memberikan posisi koordinator divisi Media pada gue.
Ya, gue.
Yang kalau diartikan secara harfiah, “gue” sama dengan “si bego yang ngatur dirinya sendiri aja masih acakadut di mana program dietnya yang udah dikoar-koarkan semenjak tahun lalu berakhir dengan kenaikan berat badannya yang sukses”.
Ya, gue.
Yang kalau kita artikan secara tidak harfiah, memberikan tugas koordinator tersebut ke “gue” sama juga artinya dengan “mati aja luh, Jay”.
Ya, ampun, kenapa sih gue mau aja nerima tugas ini? Bisa-bisanya sih seorang ketua angkatan seperti Ajay menunjuk gue yang cupu begini jadi koordinator?
Seorang koordinator, pemimpin, apapunlah namanya itu kan harus ganteng dan berkharisma. Bukannya bilang kalau gue gak ganteng (oke banget malah!), tapi kalau dari faktor kharisma nampaknya jelas sekali gue mengalami defisit karena sampai saat ini gue masih aja jomblo (berkualitas tinggi).
Duh. Gimana coba jadinya kalo gagal? Tuh kan, gue aja udah mulai gak percaya dengan diri gue sendiri. Gimana dengan orang lain nih? ARRRGGHH.
…
Oke, tenang. Tenang.
Gue masih punya delapan hari lagi untuk mengumpulkan anggotanya. Oke, oke. Chitra udah gue hubungin. Rengga juga katanya udah mau kan? Pascal sama Prysta juga udah oke.
…
TAPI TERUS KALAU UDAH KEKUMPUL MAU NGAPAIN? ARGH.
Oke, oke. Tenang, Droo. Menurut buku-buku self-help leadership, sebuah kelompok macam ini harus mempunyai tujuan yang jelas terlebih dahulu.
Oke.
Apa tujuan divisi Media di angkatan 2006 FK Unpad ini?
…krik, krik.
Oke, tarik napas pelan-pelan. Coba gue ingat-ingat perkataan Ajay waktu rapat koordinasi dulu.
Ajay: Oke, jadi tugas Media adalah, blablabla… (membicarakan sesuatu-entah-apa-itu)
Droo: (memasang tampang SOK serius sambil melihat kertas berisi coret-coretan gak penting) Hmm. Ya, ya. (SOK nambahin coretan di kertas biar berkesan lebih profesional) Ya, gue mengerti.
Oke. Tidak membantu.
Jangan panik. Jangan panik. Tarik napas perlahan-lahan. Kita tidak ingin serangan hiperventilasi itu kembali terjadi sekarang. Coba, pelan-pelan diingat kembali… Visualisasikan, kalau menurut buku self-improvement memori yang gue baca.
Ajay: Oke, jadi tugas Media adalah, blablabla… (membicarakan sesuatu) koordinasi dengan Pendidikan… blablabla.
Oke. Gue mulai mengingat sesuatu. Oh ya, kerjasama mempublikasikan masalah beasiswa dengan divisi Pendidikan. Baik, baik. Apalagi sekarang?
Ajay: (membicarakan sesuatu lagi) Publikasi angkatan ke luar dan ke dalam, blablabla, jarkom, blablabla, slide… Dosen-dosen tahun kedua banyak yang protes dengan hal ini.
Oke, jadi slide itu penting untuk diatur. Ingat itu Droo. Oke. Setelah itu apa?
Tidak ingat apa-apa lagi.
ARGH.
Apa? Kenapa gak nanya Ajay langsung aja? Ya ampppuuuuun! GENGSI DOOOONG. Mau ditaro di mana muka gue yang oke ini? Tidak, tidak.
Hmph. Besok hari pertama kuliah gue, mudah-mudahan gak ketemu Ajay dulu.
Catatan untuk diri sendiri:
Delapan hari lagi menuju neraka kemarahan Ajay.

